Terumbu Karang Teluk Jailolo Kritis, Penyelam Profesional Soroti Aktivitas Perusak Laut

Kierahapost.com Riski Samsudin
Terumbu Karang Teluk Jailolo Kritis, Penyelam Profesional Soroti Aktivitas Perusak Laut (Dok/istimewa)

HALBAR – Kondisi terumbu karang di perairan Teluk Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), Maluku Utara, disebut semakin mengkhawatirkan.

Kerusakan ekosistem laut mulai menjadi perhatian serius karena diduga dipengaruhi berbagai aktivitas manusia di wilayah pesisir dan perairan teluk.

Hal itu disampaikan Tommy Chandra, penyelam profesional asal Desa Porniti, Kecamatan Jailolo, yang memiliki lisensi internasional dan berafiliasi dengan PADI Scuba Dive, Selasa (29/9/2026).

Menurut Tommy, kondisi terumbu karang di kawasan Teluk Jailolo saat ini membutuhkan perhatian serius. Ia menyebut pemanasan global dan fenomena cuaca seperti El Niño turut meningkatkan suhu permukaan laut yang dapat memicu pemutihan karang atau coral bleaching.

“Pemanasan global dan kenaikan suhu permukaan laut yang berlangsung dalam beberapa waktu dapat memicu pemutihan karang. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan bagi keberlangsungan ekosistem terumbu karang,” ujar Tommy.

Tak hanya perubahan iklim, Tommy juga menyoroti ancaman pencemaran dari aktivitas manusia. Menurut dia, limpasan limbah pertanian, bahan kimia, sampah plastik hingga sedimentasi lumpur dapat menutup permukaan karang dan menurunkan kualitas perairan.

Kondisi tersebut, kata dia, semakin rentan terjadi di Teluk Jailolo karena sirkulasi air laut di kawasan teluk relatif lambat. Aktivitas penangkapan ikan yang menggunakan cara-cara yang berpotensi merusak juga dinilai dapat memperparah tekanan terhadap ekosistem terumbu karang.

“Apalagi kita berada di wilayah Teluk Jailolo yang sirkulasi air lautnya agak lambat. Kemudian masih ada aktivitas penangkapan ikan dengan cara-cara yang dapat merusak karang,” tegasnya.

Tommy juga menyoroti belum optimalnya pembagian atau pembatasan zona aktivitas di wilayah perairan, termasuk antara kawasan tangkap ikan dan kawasan yang berpotensi dikembangkan sebagai destinasi wisata bahari.

Menurutnya, Teluk Jailolo memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan wisata bawah laut. Namun, potensi tersebut terancam apabila habitat dan ekosistem laut tidak segera dijaga.

“Yang seharusnya menjadi perhatian adalah habitat dan ekosistemnya. Jangan sampai tempat yang memiliki potensi untuk promosi wisata underwater justru rusak akibat aktivitas manusia,” katanya.

Ia juga menyinggung penggunaan bahan berbahaya dalam aktivitas penangkapan ikan, seperti potas dan bius ikan. Menurut Tommy, penggunaan cara tersebut berpotensi memberikan dampak terhadap ekosistem laut, khususnya terumbu karang.

Selain aktivitas penangkapan ikan, Tommy mengungkapkan sejumlah aktivitas lain yang menurutnya perlu mendapat perhatian, seperti aktivitas pelabuhan, lalu lintas speed boat dan kapal, pembuangan limbah oli, limbah rumah tangga, sampah plastik hingga sedimentasi akibat aktivitas reklamasi.

“Banyak faktor yang dapat merusak karang. Ada penggunaan potas, kemudian bius ikan. Itu dapat merusak karang,” ungkapnya.

“Selain itu ada aktivitas pelabuhan, angkutan speed boat dan kapal-kapal yang membuang limbah oli ke laut, limbah rumah tangga, sampah plastik, serta sedimentasi pasir dan lumpur akibat reklamasi. Masih banyak faktor lainnya,” sambung Tommy.

Ia berharap kondisi Teluk Jailolo mendapat perhatian lebih serius dari pemerintah, pelaku usaha, nelayan, maupun masyarakat pesisir. Menurutnya, perlindungan ekosistem laut harus menjadi bagian penting dalam pengembangan pariwisata Halmahera Barat.

“Harapannya semoga Teluk Jailolo bisa lebih baik lagi dan menjadi salah satu ikon wisata, khususnya di Maluku Utara,” harapnya.

Tommy juga mengajak masyarakat pesisir untuk bersama-sama menjaga dan melindungi laut Jailolo. Sebab, menurutnya, potensi wisata bahari tidak akan bertahan apabila ekosistem laut terus mengalami kerusakan.

“NGONI JAGA LAUT, LAUT JAGA P NGONI,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini