Tekad Halbar Sulap Cakalang Jadi Pentolan, Desa Saria Bidik Pasar

Kierahapost.com Riski Samsudin
Warga Saria Sulap Cakalang Jadi Pentolan (Dok/istimewa)

HALBAR – Program Transformasi Ekonomi Kampung Terpadu (TEKAD) Kabupaten Halmahera Barat (Halbar), Maluku Utara, mulai mendorong potensi perikanan Desa Saria menjadi produk olahan bernilai ekonomi tinggi.

Melalui pelatihan teknis pembuatan pentolan dan abon ikan cakalang, masyarakat didorong agar tidak lagi hanya menjual ikan mentah, tetapi mampu mengembangkan usaha kreatif yang berdaya saing.

Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari tersebut digelar di Desa Saria, Jumat (9/10/2026), dengan melibatkan 20 peserta perwakilan kelompok demplot desa. Kegiatan ini menghadirkan tenaga profesional, Nurjana, sebagai pelatih dalam pengolahan produk berbahan dasar ikan cakalang.

Fasilitator Kabupaten TEKAD Halbar, Anton Ilyas, mengatakan pelatihan tersebut merupakan langkah konkret untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah potensi perikanan lokal menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

“Selain pelatihan teknis pembuatan pentolan ikan cakalang, kami juga melakukan pengolahan abon ikan cakalang di Desa Saria. Pelatihan ini menghadirkan pelatih profesional agar masyarakat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang tepat,” ujar Anton.

Menurutnya, Desa Saria memiliki potensi perikanan yang besar, mulai dari ikan tuna, cakalang, hingga berbagai jenis ikan lainnya. Namun, pemanfaatan hasil perikanan menjadi produk turunan masih perlu dikembangkan agar mampu memberikan nilai tambah bagi ekonomi masyarakat.

Anton menegaskan, pelatihan ini tidak boleh berhenti sebatas kegiatan seremonial. Kelompok usaha diharapkan mampu menerapkan keterampilan yang diperoleh untuk meningkatkan produksi, menjaga kualitas, serta memperluas pemasaran produk olahan ikan.

“Kami berharap pemerintah desa dan kelompok usaha dapat meningkatkan jumlah produksi pentolan maupun abon ikan. Desa Saria dikenal sebagai salah satu penghasil ikan di Halbar, sehingga potensi ini harus dimanfaatkan secara maksimal,” tegasnya.

Ia juga meminta dukungan pemerintah daerah, pemerintah provinsi, hingga pemerintah pusat agar produk olahan masyarakat Desa Saria dapat berkembang dari skala desa menuju pasar yang lebih luas, baik lokal maupun nasional.

Menurut Anton, peluang pasar akan terbuka apabila produk yang dihasilkan mampu memenuhi standar kualitas dan kebutuhan konsumen. Dengan demikian, usaha pengolahan ikan diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus menggerakkan perekonomian desa.

“Jika produk ini mampu menembus pasar lokal maupun nasional dengan standar yang sesuai, tentu akan membantu meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat Desa Saria,” katanya.

Anton menjelaskan, pada 2026, pelatihan teknis melalui Program TEKAD dilaksanakan di sekitar 10 desa yang tersebar di sejumlah kecamatan di Halbar, di antaranya Jailolo, Ibu Selatan, Ibu, dan Ibu Utara.

Meski jenis programnya serupa, materi pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing desa dan usulan demplot yang dikembangkan. Pelatihan juga melibatkan praktisi serta pelaku usaha agar peserta memperoleh pengetahuan yang dapat langsung diterapkan.

Ia mengaku antusiasme masyarakat Desa Saria melampaui perkiraannya. Warga berbondong-bondong mengikuti pelatihan karena melihat peluang baru dalam mengembangkan hasil perikanan, yang selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk ikan mentah.

“Dulu masyarakat lebih mengenal ikan hanya dijual begitu saja. Sekarang, mereka mulai melihat bahwa ikan bisa diolah menjadi pentolan, abon, dan produk lainnya yang memiliki nilai tambah,” ungkap Anton.

Ia berharap pengembangan kelompok demplot tersebut dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi desa dan membuka peluang usaha yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Sementara itu, Kepala Desa Saria, Atman Hasan, menyambut positif pelatihan yang dilaksanakan melalui Program TEKAD Halbar. Menurutnya, kegiatan tersebut membantu kelompok usaha masyarakat mengembangkan kreativitas dan memperluas jenis produk olahan ikan.

Atman mengatakan, pengembangan usaha tidak seharusnya hanya terpaku pada satu jenis produk. Selain abon ikan, pembuatan pentolan cakalang dinilai dapat menjadi peluang usaha baru yang perlu dikelola secara serius oleh kelompok masyarakat.

“Harapan kami, kelompok usaha di Desa Saria bisa lebih fokus dan mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang pengembangan usaha, sehingga keterampilan yang diperoleh benar-benar bisa diterapkan,” ujarnya.

Ia juga meminta koordinator Program TEKAD untuk terus melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan program dan perkembangan kelompok usaha di desa.

Menurut Atman, pendampingan berkelanjutan sangat penting agar masyarakat tidak hanya mendapatkan pelatihan, tetapi juga mampu mengembangkan produksi, meningkatkan kualitas, dan menjaga keberlangsungan usaha.

Dengan potensi perikanan yang melimpah, Desa Saria kini memiliki peluang untuk mengembangkan produk olahan lokal sebagai sumber pendapatan baru. Tantangan berikutnya adalah memastikan hasil pelatihan benar-benar berlanjut menjadi usaha produktif yang mampu bersaing di pasar dan memberikan dampak nyata bagi ekonomi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini