KSOP Ternate Imbau Kapal Kecil Tak Melaut, Cuaca Ekstrem Mengancam

Foto Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas II Ternate, Rushan Muhammad (Dok/istimewa)

TERNATE – Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Ternate, Rushan Muhammad, mengimbau kapal-kapal berukuran kecil, terutama kapal nelayan, untuk tidak melaut saat kondisi cuaca ekstrem.

‎Imbauan tersebut disampaikan menyusul informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait perubahan cuaca dengan kecepatan angin tinggi di sejumlah wilayah perairan Maluku Utara.

Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan gelombang tinggi yang membahayakan pelayaran.

Rushan mengatakan, pihaknya telah memiliki mekanisme penyampaian informasi cuaca kepada para nakhoda dan perusahaan pelayaran melalui grup komunikasi yang dibentuk bersama BMKG.

“Kita sudah punya mekanisme pemberitahuan kepada nakhoda. Ada grup-grup yang dibuat oleh BMKG yang di dalamnya ada nakhoda dan pelayaran. Kita menyampaikan kepada mereka, setiap berlayar harus membuat rencana pelayaran,” kata Rushan saat di konfirmasi melalui via WhatsApp, Jumat (14/8/2026).

Menurutnya, perhatian khusus diberikan kepada kapal-kapal kecil dan nelayan karena sebagian di antaranya tidak memiliki Surat Persetujuan Berlayar (SPB) dari KSOP. Untuk kapal nelayan, penerbitan SPB berada di bawah kewenangan instansi perikanan, sementara sebagian nelayan kecil bahkan beraktivitas tanpa SPB.

“Kami mengimbau kapal-kapal ukuran kecil, terutama kapal nelayan, untuk tidak melaut dalam kondisi seperti ini. Kalau terpaksa, mungkin hanya di perairan yang dekat, sekitar satu sampai dua mil dari pantai dan paling jauh 10 mil,” ujarnya.

Rushan menegaskan, KSOP Ternate juga terus memantau perkembangan cuaca sebelum memberikan keputusan terkait keberangkatan maupun penundaan pelayaran.

Jika kondisi cuaca dinilai tidak memungkinkan, KSOP akan berkoordinasi dengan pelabuhan tujuan, seperti Manado, Bitung, Babang, Ambon hingga Sanana.

“Kalau cuaca berubah dan tidak memungkinkan untuk pelayaran, biasanya kami koordinasi dengan pelabuhan tujuan. Jadi kalau dibuat penundaan, dilakukan secara bersamaan. Kita selalu mengamati perkembangan cuaca,” jelasnya.

Untuk kapal-kapal milik PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni), Rushan menyebut hingga saat ini kondisinya masih relatif aman.‎Namun, selain cuaca ekstrem, KSOP Ternate kini juga meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran kapal. Hal itu menyusul terjadinya kebakaran kapal feri di Bali dan Lombok dalam dua pekan terakhir.

‎“Kalau kapal-kapal Pelni sejauh ini masih cukup aman. Kami khawatirkan sekarang justru kebakaran. Dalam dua minggu terakhir di Bali dan Lombok sudah ada dua kali kebakaran kapal feri. Ini yang kami antisipasi,” ungkapnya.

Untuk mencegah kejadian serupa, KSOP Ternate melakukan pemeriksaan terhadap kapal secara rutin. Inspektur bersama auditor keselamatan angkutan laut melakukan pemeriksaan setiap hari.

“Saya sudah mengutus semua kepala seksi untuk berkoordinasi dengan ASDP sebagai operator pelabuhan dan operator kapal,” katanya.

Khusus armada ASDP, Rushan menyebut terdapat arahan dari kantor pusat untuk dilakukan audit tambahan. Pemeriksaan tersebut dilakukan karena terdapat tiga kapal ASDP yang beroperasi di wilayah Ternate.

‎“Untuk ALP, ada arahan dari kantor pusat untuk melakukan audit tambahan. Prosesnya sementara berjalan karena di sini ada tiga kapalnya,” jelas Rushan.

Ia menambahkan, seluruh kebijakan terkait hasil audit dan langkah lanjutan terhadap armada tetap dikoordinasikan dengan kantor pusat.

Di sisi lain, Rushan mengakui KSOP Ternate masih kekurangan tenaga inspektur. Saat ini hanya terdapat empat orang inspektur yang harus menangani pengawasan keselamatan pelayaran.

‎“Saya kewalahan karena tenaga inspektur sekarang tinggal empat orang. Ini masih kurang. Kami sudah mengusulkan untuk penambahan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini