Dari Bau Garam ke Panggung Dunia: Muksin Suleman, Anak Nelayan yang Menahkodai Pariwisata Pulau Morotai
HALBAR – Kisah inspiratif datang dari pesisir Halmahera Barat. Seorang anak nelayan dari desa kecil berhasil menembus batas dan kini memegang peran strategis dalam memajukan sektor pariwisata daerah.
Dialah Muksin Suleman, S.S, sosok yang kini menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Pulau Morotai.
Lahir di Desa Saria, Kecamatan Jailolo, pada 3 Mei 1982, Muksin tumbuh dalam kehidupan sederhana yang lekat dengan laut.
Deburan ombak dan aroma garam menjadi bagian dari kesehariannya sejak kecil. Ia menyaksikan langsung bagaimana keluarganya menggantungkan hidup dari hasil laut.
“Dari kampung itulah saya belajar arti kerja keras dan keberanian menghadapi badai,” ungkap Muksin Senin (4/5/2026).
Namun, di saat banyak teman sebayanya memilih menjadi nelayan, Muksin justru mengambil jalan berbeda. Ia “berlayar” ke dunia pendidikan dan berhasil meraih gelar Sarjana Sastra Inggris di Universitas Khairun.
Pendidikan menjadi titik balik yang mengubah cara pandangnya.Ia tidak hanya menjadi lulusan akademik, tetapi juga sosok visioner yang siap membawa perubahan.Karier Muksin di dunia birokrasi tidak dibangun secara instan.
Selama 15 tahun, ia menapaki setiap jenjang dengan penuh dedikasi – mulai dari staf, Kasubag Perencanaan, Kabid Pemasaran, hingga Kabid Destinasi. Kini, ia dipercaya memimpin sektor pariwisata Morotai.
Dalam perjalanannya, Muksin mengaku banyak belajar dari para pendahulunya. Ia menyadari bahwa jabatan adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Di bawah kepemimpinannya, berbagai langkah strategis mulai digerakkan. Ia turut mendorong lahirnya Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Daerah (RIPPD) sebagai arah pembangunan pariwisata. Tak hanya itu, ia juga berperan dalam membawa event MoroFest masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN), serta menyukseskan Morotai Fun Run.
Meski demikian, tantangan tidak sedikit.
Mulai dari keterbatasan akses hingga infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah besar. Namun, Muksin memilih untuk terus bergerak dan menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi.
“Memajukan Morotai ke tingkat dunia bukan perkara mudah, tapi kita harus terus berusaha,” tegasnya.
Bagi Muksin, keberhasilannya bukan hanya tentang dirinya sendiri. Ia melihat Desa Saria sebagai bukti bahwa anak-anak pesisir mampu bersaing dan tampil di panggung besar. Banyak putra daerahnya kini berprofesi sebagai camat, guru, aparat, hingga jurnalis.
Ia pun menitipkan pesan kuat bagi generasi muda: “Jika hari ini kalian masih menarik jaring, jangan merasa kecil. Anak nelayan pun bisa.”Di balik pencapaiannya, Muksin tetap menyimpan mimpi sederhana: kembali ke kampung halamannya di Jailolo suatu hari nanti, membawa ilmu dan pengalaman untuk membangun tanah kelahirannya.
Kisah Muksin Suleman bukan sekadar perjalanan karier, melainkan bukti nyata bahwa asal-usul bukanlah batas – melainkan titik awal menuju mimpi besar.










Tinggalkan Balasan