Relevansi Nilai Ketauhidan Gusdur dalam Kepemimpinan Moderen

Ibnu Haris Garusu (Foto/Istimewa)

Opini :
Oleh : Ibnu Haris Garusu
Wakil Presiden BEM IAIN

TERNATE – Indonesia adalah Negara Heterogen, olehnya itu penulis pikir bahwa konsep Gus Dur dalam lensa kepemimpinan moderen dapat menginternalisasi 9 Nilai Utama Gus Dur untuk membentuk pemimpin yang humanis. Hemat penulis dalam tulisan diatas adalah bahan evaluasi kritik auto kritik untuk kita semua (Mohammad Faizal, 2024:14).
kepemimpinan Gus Dur menjadi cermin atau kompas untuk melihat arah bangsa saat ini.

Ada sembilan nilai utama diantaranya ada ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, kesederhanaan, persaudaraan, kebebasan, kesatriaan, dan kearifan lokal. Keberpihakan pada kaum lemah, pluralisme, dan demokrasi bukan hanya warisan moral, tetapi juga fondasi strategis untuk melahirkan pemimpin yang berjiwa besar dan berpihak pada rakyat (Agung, 2023: 3).

Dengan menghayati nilai-nilai tersebut, seorang pemimpin modern tidak hanya mampu menjalankan roda kekuasaan secara efektif, tetapi juga menghadirkan kepemimpinan yang inklusif, penuh toleransi, dan berkeadilan. Inilah jalan untuk membangun masyarakat yang damai, beradab, dan sejahtera sebuah visi kepemimpinan humanis yang tetap relevan lintas zaman. Akan tetapi, disini penulis hanya ingin memaparkan terkait dengan konsep ketauhidannya Gus Dur yang akhir-akhir ini meresahkan pikiran.

Menurut penafsiran Al-Mishbah, konsep ketauhidan atau keesaan Allah terbagi menjadi empat aspek, yaitu: keesaan zat, keesaan sifat, keesaan dalam perbuatan, serta keesaan dalam beribadah kepada-Nya.

Keempat bentuk keesaan ini memiliki keterkaitan erat dengan teori Tauhid Rububiyah, Tauhid Uluhiyah, dan Tauhid Asma’ wa Sifat. Keesaan zat sejalan dengan makna Tauhid Rububiyah, keesaan perbuatan serta keesaan dalam beribadah berhubungan dengan Tauhid Uluhiyah, sedangkan keesaan sifat selaras dengan Tauhid Asma’ wa Sifat (Tri, 2018:1).

Kemudian juga ada pendapat yang dituliskan oleh M. Imdadun Rahmat Islam pribumi: “mendialogkan agama, membaca realitas” dalam tulisan Rahmat mejelaskan bahwa ketauhidan menjadi modal utama kita untuk membebaskan diri dari Tuhan-Tuhan palsu yang ada dalam kehidupan kita, seperti materi, kekuasaan, gagasan, dan ideologi. Konsep ketuhidan menurutnya adalah pembebasan manusia (Rahmat, 2003:22).

Dalam konteks kekinian, modernitas sedikit banyaknya telah menggeser nilai-nilai hidup masyarakat. Bahkan hampir diberbagai aspek itu terjadi. Yasraf Amir Piliang dalam bukunya “Dunia yang Berlari: Mencari Tuhan-Tuhan Digital” memaparkan bahwa perkembangan teknologi dan informasi atau dengan istilah yang sering ia gunakan syberdpace telah mempengaruhi pola kehidupan dan kebergaman manusia, bahkan hal menyangkut spiritualitas (Piliang, 2004: 3).

Sedangkan menurut Gus Dur ketauhidan berakar pada keyakinan kepada Allah sebagai Dzat Yang Maha Ada, satu-satunya realitas hakiki penuh kasih sayang, yang dikenal dengan berbagai nama. Tauhid bukan hanya sebatas ucapan atau hafalan, melainkan pengalaman batin yang disaksikan dan disingkapkan.

Ia meneguhkan kesadaran terdalam bahwa Allah adalah sumber utama segala sesuatu dan rahmat kehidupan di alam semesta. Pandangan tauhid menjadi landasan nilai-nilai ideal yang diperjuangkan Gus Dur, melampaui batas-batas lembaga maupun birokrasi agama.

Tauhid yang bersifat transendental itu diwujudkan dalam tindakan nyata dan perjuangan di bidang sosial, politik, ekonomi, serta kebudayaan demi menegakkan nilai-nilai kemanusiaan.

Olehnya itu, nilai utama Gus Dur menyangkut dengan ketauhidan sangat relevan untuk di internalisasikan dalam praktek kepemimpinan modern hari ini.

Sebab ia bisa menjadi benteng bagi pemimpin modern dalam menghadapi tantangan besar bagi kehidupan spiritual dan kegamaan di masa depan. Apalagi di Indoensia yang notabenenya memiliki keragaman agama dan kepercayan.

Memang banyak pendekatan penafsiran terkait konsep ketauhidan, namun konsep ini seringkali disalah artikan oleh para cedikiawan muslim dan cenderung konservatif dalam memahami konsep tersebut.

Untuk memaknai konsep ketauhidan, seharusnya tidak hanya membicarakan pada aspek spritualitas semata, dan mengabaikan aspek sosial, ekonomi, dan politik.

Padahal kalau kita maknai lebih jauh lagi, sebenarnya konsep dari ketauhidan ini telah memproyeksikan gambaran umum dalam menumbuhkan nilai-nilai humanis diberbagai sendi-sendi kehidupan sebagaimana perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam menyebarkan agama Islam (Iskandar, 2024).

Hal ini serupa apa yang dituliskan oleh Saiful Arif tentang “Humanisme Gus Dur” dalam tulisan tersebut Gus Dur tidak menyampingkan seakan ada garis pembatas antara aspek sosial dan spritual, bagi Gus Dur harus seimbang antara kedua aspek tersebut.

Karena baginya kalau tidak seimbang dalam kehidupan akan mengalami kelemahan iman dan kehilangan makna dari ketauhidan. Namun lagi-lagi kita seringkali punya prespektif tersendiri dalam memahami ketauhidan.

Apalagi disituasi moderen saat ini dengan perkembangan teknologi semakin pesat. Makanya menurut penulis muatan-muatan yang berbaur dengan humanisme itu harus tetap ada dan menjadi bibit pada kaum muda pada masa kini yang akan menjadi pemimpin di masa akan datang.

Referensi

Agung, Mohammad Faizal. Konsep Pendidikan Pluralisme dan Pendidikan Karakter Islam Perspektif Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Serta Relevansinya di Era Revolusi Industri 5.0. Diss. UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, 2024.

Agung, Agung. Strategi Dakwah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam meneguhkan toleransi beragama. Diss. IAIN Parepare, 2023. Yasraf Amir Piliang. Dunia Yang Berlari, 2004.

Saputra, Depri Fija. Pemikiran Humanisme KH. Abdurrahman Wahid Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Islam: Studi Atas Karya Syaiful Arif Humanisme Gus Dur. Diss. IAIN Ponorogo, 2022.

Zunaenah, Tri. konsep pendidikan tauhid dalam keluarga (studi terhadap surat al-ikhlas menurut tafsir al-mishbah karya m. Quraish shihab). Diss. IAIN SALATIGA, 2018.

MUHAMMAD ISKANDAR, M. I. KONTEKSTUALISASI QS. AL-FATIHAH DALAM MEMBANGUN DIMENSI KEHIDUPAN. Diss. UIN Suska Riau, 2024.
Rahmat, M. Imdadun. Islam pribumi: mendialogkan agama, membaca realitas. Erlangga, 2003.

Mursyid, Fadillah, Beni Azwar, and Dini Palupi Putri. Studi Pemikiran Pendidikan Islam Menurut KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Diss. Institut Agama Islam Negeri Curup, 2020.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
error: Content is protected !!