Sampah Membusuk Puluhan Hari di Terminal Gufasa, Kades Ancam Angkut ke Kantor DL
HALBAR – Tumpukan sampah yang membusuk selama puluhan hari di areal Terminal Pasar Gufasa, Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, akhirnya memicu kemarahan warga dan pemerintah desa setempat.
Kepala Desa Gufasa, Muhammad Dahri Is Takome, bahkan mengancam akan memobilisasi sampah langsung ke kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Halmahera Barat jika tidak segera diangkut.
Persoalan sampah di terminal lama Pasar Gufasa disebut bukan kali pertama terjadi. Kondisi ini terus berulang dan dinilai menunjukkan buruknya pengelolaan sampah oleh dinas terkait.
“Pantauan terakhir yang saya lihat langsung tadi, berdasarkan keterangan warga sekitar, sampah ini kurang lebih puluhan hari belum diangkut. Saya tidak tahu apa alasannya,” tegas Dahri kepada wartawan, Minggu (24/5/2026).
Menurutnya, volume sampah di lokasi tersebut semakin tidak terkendali karena hanya ditumpuk pada satu titik tanpa pengelolaan yang baik. Selain pedagang pasar, warga dari luar Desa Gufasa juga diketahui kerap membuang sampah di area itu.
Akibatnya, bau busuk menyengat menyebar hingga radius ratusan meter, terutama saat hujan dan angin kencang.
“Bahkan rumah saya yang jaraknya sekitar 300 meter kadang masih tercium bau sampah yang tidak sedap,” kesalnya.
Ironisnya, lokasi penumpukan sampah itu berada dekat mushala dan kawasan terminal sehingga membuat wajah Kota Jailolo terlihat kumuh dan jauh dari slogan Halmahera Barat bersih dan sehat.
“Ini bukan lagi tempat penampungan sementara, tapi sudah seperti tempat pembuangan akhir. Bagaimana torang mau wujudkan Halbar sehat kalau satu titik saja tidak bisa ditangani,” cetus Dahri.
Dahri juga menyoroti lempar tanggung jawab antarinstansi. Menurutnya, DLH berdalih lokasi penempatan kontainer merupakan kewenangan Disperindag, sementara Disperindag menyebut urusan pengangkutan tetap menjadi tanggung jawab DLH.
Karena kondisi yang terus dibiarkan, warga disebut sudah beberapa kali berinisiatif mengangkut sampah langsung ke kantor DLH sebagai bentuk protes.
“Kami di pemdes terus meredam masyarakat. Tapi kalau ini terus terjadi, nanti masyarakat menganggap pemerintah desa tidak peduli,” katanya.
Ia mengaku telah berkomunikasi langsung dengan Sekretaris DLH dan mendapat janji bahwa sampah akan segera diangkut. Meski begitu, pihaknya tetap memberi ultimatum keras.
“Kalau sampai besok dorang belum angkut, saya kumpulkan masyarakat untuk bakti sosial lalu mobilisasi semua sampah ke kantor DLH supaya mempermudah pekerjaan mereka. Jadi operasional dorang tidak usah lagi ke Gufasa, tinggal angkut dari kantor ke TPA,” tegas Dahri.
Kades berharap Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat segera mengambil langkah serius dalam menangani persoalan sampah yang dinilai sudah sangat meresahkan masyarakat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak DLH Halmahera Barat belum berhasil dikonfirmasi. Kierahapost.com masih berupaya menghubungi pihak terkait untuk mendapatkan tanggapan resmi.










Tinggalkan Balasan