Merasa Dianaktirikan, Warga Loloda Tengah Cegat KM Sabuk Nusantara 35, Desak Pemerintah Buka Akses Laut

Foto ratusan masyarakat Kecamatan Loloda Tengah Kabupaten Halmahera Barat cegat kapal KM Sabuk Nusantara 35 (Dok/istimewa)

HALBAR – Kesabaran masyarakat Kecamatan Loloda Tengah (Loteng), Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, tampaknya telah mencapai batas.

Bertahun-tahun hidup dalam keterisolasian akibat minimnya akses transportasi laut, warga akhirnya kembali mencegat KM Sabuk Nusantara 35 di perairan Desa Barataku, Jumat (24/7/2026), sebagai bentuk protes keras terhadap pemerintah.

Dengan menggunakan delapan unit longboat berukuran 2 hingga 5 GT, warga nekat menghadang kapal perintis tersebut meski cuaca buruk dan gelombang laut mencapai lebih dari tiga meter.

Mereka membawa papan bertuliskan “Tolong Layani Kami Masyarakat Loteng (Loloda Tengah)” sebagai simbol kekecewaan sekaligus harapan agar pemerintah tidak lagi menutup mata terhadap penderitaan masyarakat di wilayah 3T itu.

Bagi masyarakat 10 desa di Loloda Tengah, kapal perintis bukan sekadar alat transportasi. Kehadiran kapal merupakan urat nadi kehidupan yang menghubungkan mereka dengan layanan kesehatan, pendidikan, pemerintahan, hingga pemasaran hasil pertanian dan perikanan.

Warga mengaku aksi tersebut bukan kali pertama dilakukan. Berulang kali aspirasi telah disampaikan kepada pemerintah agar KM Sabuk Nusantara 35 singgah di Desa Barataku, namun hingga kini tidak pernah direspons dengan kebijakan nyata.

Masyarakat menilai mereka diperlakukan tidak adil. Di saat sejumlah kecamatan lain telah menikmati pelayanan kapal perintis secara rutin, warga Loloda Tengah justru masih harus berjuang menghadapi mahalnya biaya transportasi dan tingginya harga kebutuhan pokok akibat sulitnya akses laut.

Akibat kondisi tersebut, masyarakat harus mengeluarkan biaya besar untuk bepergian, mengurus administrasi, mendapatkan pelayanan kesehatan, hingga menjual hasil panen. Tidak sedikit hasil pertanian dan perikanan terancam merugi karena sulit dipasarkan.

Salah seorang warga mengungkapkan, masyarakat Loloda Tengah sudah terlalu lama hidup dalam keterbatasan meski berbagai janji pembangunan terus disampaikan pemerintah.

“Kami tidak meminta kemewahan. Kami hanya ingin diperlakukan sama seperti masyarakat di daerah lain. Berikan kami akses transportasi yang layak agar kami bisa hidup lebih baik dan menjual hasil panen tanpa harus menanggung biaya yang tinggi,” ujarnya.

Warga mendesak pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Maluku Utara, Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat, serta instansi terkait segera mengevaluasi rute KM Sabuk Nusantara 35 dan menetapkan Desa Barataku sebagai pelabuhan singgah.

Bagi masyarakat Loloda Tengah, perjuangan mencegat kapal bukan sekadar aksi protes. Itu adalah jeritan warga di wilayah terdepan yang selama bertahun-tahun merasa diabaikan dan berharap negara benar-benar hadir memberikan keadilan serta pemerataan pembangunan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini