Di Antara Buku, Ruang Kuliah, dan Keheningan Mengenang Dr. Nam Rumkel, S.Ag., M.H.

Dok istimewa

Oleh Ichal Faissal Malik

Kierahapost.com – Kampus selalu mempunyai cara yang sunyi dalam mengabarkan kehilangan. Tidak ada sirene. Tidak ada dentang lonceng. Hanya lorong-lorong yang tiba-tiba terasa lebih lengang, ruang dosen yang kehilangan satu kursi, dan ruang kuliah yang tak lagi mendengar suara yang selama bertahun-tahun menghidupkan ilmu.

Lalu kabar itu datang, sederhana, nyaris tanpa kalimat panjang: Dr. Nam Rumkel, S.Ag., M.H. telah berpulang.

Kematian selalu menyisakan satu pertanyaan yang sama: apa yang sesungguhnya ditinggalkan seseorang? Bagi sebagian orang, mungkin jabatan.

‎Bagi yang lain, mungkin karya. Tetapi bagi seorang dosen, warisan terbesar bukanlah gelar akademik yang berjajar di belakang nama. Warisan itu hidup di dalam pikiran para mahasiswa yang pernah diajar, di dalam keyakinan yang pernah ia tanamkan, dan dalam ingatan kolega yang pernah berjalan bersama di lorong-lorong akademik.

Saya mengenal Adinda Nam begitulah saya menyapanya karena sebuah profesi yang sama dan ikatan emosional “Ijo Itam”. Kami dipertemukan bukan oleh hubungan keluarga atau persahabatan lama, melainkan oleh ruang pengabdian yang sama sebagai dosen di Fakultas Hukum Unkhair Ternate.

‎Namun, ada orang-orang yang hanya membutuhkan satu pertemuan untuk dikenang seumur hidup. Adinda Nam adalah salah satunya. Ia bukan tipe akademisi yang gemar menjadi pusat perhatian. Ia lebih sering menjadi pendengar daripada pembicara. Ketika diskusi berlangsung, ia tidak tergesa-gesa menyela.

‎Ia membiarkan setiap pendapat menemukan ujungnya, lalu menyampaikan pandangan dengan tenang, jernih, dan penuh pertimbangan. Tidak ada kalimat yang berlebihan. Tidak ada argumentasi yang dibangun demi tepuk tangan.

Di tengah dunia akademik yang kadang tak lepas dari perlombaan gelar, publikasi, dan pengakuan, Adinda Nam justru memperlihatkan bahwa martabat seorang dosen tidak lahir dari seberapa sering namanya disebut, melainkan dari seberapa tulus ia mengabdikan ilmunya.

‎Bagi Adinda Nam, mengajar bukanlah rutinitas yang harus diselesaikan agar beban kerja terpenuhi. Mengajar adalah perjumpaan.

‎Sebuah kesempatan untuk mengubah cara berpikir seseorang, memperkenalkan hukum bukan sebagai kumpulan pasal yang harus dihafal, melainkan sebagai instrumen untuk menjaga keadilan dan martabat manusia. Ia datang ke kelas bukan sekadar membawa bahan ajar. Ia membawa keyakinan bahwa setiap mahasiswa berhak memperoleh ilmu yang terbaik.

‎Tidak sedikit dosen yang dihormati karena ketegasannya. Adinda Nam dihormati justru karena ketegasan itu tidak pernah kehilangan sisi kemanusiaannya. Mahasiswa tidak segan mengetuk pintu ruangannya. Mereka datang membawa skripsi, tesis, kebingungan, bahkan persoalan hidup.

‎Dan hampir selalu mereka pulang dengan suasana wajah yang  tenang, bahkan gelisah.

‎Di zaman ketika banyak orang lebih sibuk berbicara daripada memahami, kemampuan mendengarkan adalah kemewahan yang jarang dimiliki.

Adinda Nam memilikinya. Kedekatan itu tidak pernah mengurangi wibawanya sebagai seorang dosen. Justru di situlah letak kewibawaan yang sesungguhnya. Ia tidak membangun jarak agar dihormati. Ia membangun kepercayaan sehingga penghormatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini