Santri di Persimpangan Zaman: Antara Tradisi dan Transformasi
Oleh: Putri Adrini A. Lolory
Mahasiswi Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IAIN Ternate
KIERAHAPOST – Setiap tanggal 22 Oktober, kita memperingati Hari Santri Nasional. Bagi sebagian orang, peringatan ini mungkin hanya sekadar upacara atau ajang lomba bertema islami. Namun bagi saya, Hari Santri memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia bukan hanya seremoni tahunan, melainkan momentum refleksi – sejauh mana nilai-nilai kesantrian masih relevan dan mampu menjawab tantangan zaman.
Saya pernah mondok selama enam tahun. Di pesantren, saya belajar banyak hal. Bukan hanya tentang kitab kuning dan tata cara ibadah, tetapi juga tentang hidup berdampingan dengan orang lain, menghargai proses, bersabar dalam menuntut ilmu, dan yang terpenting: menjaga adab. Di lingkungan Hidayatullah, tempat saya dibina, saya benar-benar merasakan bahwa menjadi santri bukan hanya soal ilmu, tetapi juga misi.
Misi untuk menjadi pribadi yang kuat dalam akidah, santun dalam sikap, dan siap terjun melayani masyarakat.
Dulu, santri sering digambarkan sebagai sosok sederhana, kalem, dan “ndalem”. Namun kini, santri dituntut untuk adaptif, cerdas, dan kritis. Kita hidup di era digital yang bergerak sangat cepat. Informasi datang tanpa henti, tetapi tidak semuanya benar. Opini bertebaran di media sosial, tapi sering tanpa adab. Budaya instan semakin merajalela, sementara tradisi ilmu dan kesantunan mulai tergerus. Di titik inilah, saya melihat peran santri menjadi sangat penting – bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menuntun.
Namun, menjadi santri di era sekarang juga tidak mudah. Tantangan datang bukan hanya dari luar seperti media sosial dan gaya hidup modern, tetapi juga dari dalam diri sendiri. Banyak di antara kita yang terlalu nyaman berada di zona aman — enggan berpikir jauh, tidak berani keluar dari rutinitas. Padahal, santri seharusnya menjadi pelopor perubahan, bukan sekadar penonton.
Saya sering merenung: jangan-jangan kita hanya mewarisi cara belajar santri, tetapi belum mewarisi semangat perjuangannya. Sosok seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) membuktikan bahwa santri bisa menjadi pemimpin bangsa tanpa kehilangan akar pesantrennya. Ada pula KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha), yang dengan gaya sederhana dan humoris, mampu menyebarkan nilai-nilai keislaman melalui YouTube dan TikTok. Mereka menunjukkan bahwa santri tidak harus eksklusif; justru harus hadir di tengah masyarakat, membawa pencerahan dengan bahasa yang mudah dipahami.
Di tempat saya mondok dulu, kami diajarkan bahwa dakwah bukan hanya ceramah. Dakwah adalah bagaimana kita hidup, berbicara, bekerja, dan bersikap. Kultur Hidayatullah banyak menekankan kemandirian, kedisiplinan, dan integritas. Kami terbiasa bangun pagi, belajar hingga malam, sambil tetap diberi tanggung jawab sosial. Proses itu membentuk karakter yang bukan hanya taat secara spiritual, tetapi juga siap berkontribusi di tengah masyarakat.
Kalau hari ini ada santri yang hanya bangga memakai label “santri”, tetapi tidak ikut menyelesaikan persoalan umat, maka kita perlu bertanya kembali: di mana fungsi santri sesungguhnya? Menjadi santri seharusnya bukan sekadar status, melainkan panggilan untuk menjawab keresahan masyarakat, menjadi agen perubahan, bahkan calon pemimpin.
Semua itu membutuhkan ilmu, mental, dan kesadaran, yang sejatinya telah ditanamkan di pesantren. Saya percaya, jika santri mau terus belajar, terbuka terhadap perubahan zaman, namun tetap teguh pada nilai-nilai luhur, maka santri bisa menjadi kekuatan moral dan sosial bagi masa depan bangsa.
Kita mungkin belum menjadi siapa-siapa sekarang, tapi kita dibentuk dengan cara yang tidak semua orang bisa jalani. Kita punya bekal ilmu, adab, dan ketangguhan. Tinggal satu pertanyaan yang perlu dijawab setiap Hari Santri:Sudah sejauh mana kita benar-benar menjadi santri?









Tinggalkan Balasan