Kecelakaan Laut Dominasi Operasi SAR, Halsel dan Halut Tertinggi di Maluku Utara

Basarnas Ternate bantu penumpang longboat mati mesin di Halmahera Selatan (Foto/istimewa)

TERNATE – Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) dan Halmahera Utara (Halut) tercatat sebagai daerah dengan kasus pencarian dan pertolongan (SAR) terbanyak di Maluku Utara sepanjang tahun 2025.

‎Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Ternate mencatat tingginya angka tersebut didominasi oleh kecelakaan laut, seiring karakteristik wilayah Maluku Utara yang merupakan daerah kepulauan dengan ketergantungan tinggi pada transportasi laut.

‎Kepala Basarnas Ternate, Iwan Ramdani, mengungkapkan sepanjang 2025 pihaknya telah melaksanakan 49 operasi SAR. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2024 yang hanya mencatat 41 operasi.

‎“Peningkatan ini menunjukkan masih tingginya kejadian kedaruratan di wilayah Maluku Utara, terutama kecelakaan kapal,” ujar Iwan, saat di konfirmasi, Minggu (28/2025).

‎Ia menjelaskan, dari total 49 operasi SAR tersebut, sebanyak 64 persen merupakan kecelakaan kapal. Dari 31 kejadian kecelakaan laut, tercatat 122 korban berhasil diselamatkan, tujuh orang meninggal dunia, dan 20 orang lainnya dinyatakan hilang.

‎Selain kecelakaan kapal, Basarnas Ternate juga menangani kondisi membahayakan manusia yang mencapai 25 persen dari total kasus. Dalam kategori ini, terdapat 10 korban selamat, delapan meninggal dunia, dan satu orang hilang. Sementara itu, lima kejadian bencana alam juga ditangani dengan jumlah korban selamat mencapai 125 jiwa.

‎Menurut Iwan, meningkatnya operasi SAR turut dipengaruhi oleh kondisi cuaca ekstrem serta aktivitas vulkanik di sejumlah gunung api di Maluku Utara, seperti Gunung Ibu, Gamalama, Dukono, dan Gamkonora. Potensi bencana banjir bandang juga menjadi faktor risiko yang terus diwaspadai.

‎Sebagai upaya mitigasi, Basarnas Ternate terus memperkuat koordinasi dan kerja sama dengan TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, hingga masyarakat. Salah satunya melalui pelatihan dan pemberdayaan potensi SAR, termasuk pelatihan water rescue bagi nelayan.

‎“Harapannya masyarakat memiliki kemampuan dasar untuk menyelamatkan diri sendiri dan orang di sekitarnya saat terjadi kondisi darurat,” jelasnya.

‎Iwan juga menambahkan, Unit Siaga SAR Halmahera Timur telah mulai beroperasi sejak dua bulan terakhir dan dijadwalkan akan diresmikan pada Senin, 29 Desember 2025.

‎“Ini merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kecepatan dan kualitas pelayanan SAR bagi masyarakat Maluku Utara,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini