Kohati HMI Ternate Tancap Gas: LKK II Cetak “Kartini Baru” Siap Guncang Struktur Patriarki
TERNATE – Korps HMI-Wati (Kohati) Cabang Ternate sukses menggelar Latihan Khusus Kohati (LKK) II pada 16 – 22 April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari rangkaian Training Raya Nasional HMI Cabang Ternate yang mencakup Latihan Kader II (LK II), LKK, dan Senior Course. Seluruh agenda berlangsung lancar hingga penutupan.
Ketua Umum Kohati HMI Cabang Ternate, Siti Sakinah Kasturian menegaskan, LKK tidak boleh dipandang sekadar sebagai forum kaderisasi formal.
Ia menekankan, LKK harus menjadi ruang produksi kesadaran kritis yang mampu melahirkan kader perempuan dengan daya analisis tajam dan keberanian bertindak.
“Tanpa keberanian membaca realitas secara struktural dan meresponsnya secara praksis, forum seperti LKK berisiko hanya menjadi ruang diskusi tanpa dampak nyata,” tegas Siti,Jumat (24/4/2026).
Ia menambahkan, kader perempuan tidak cukup hanya dibekali pengetahuan, tetapi juga harus terlibat aktif dalam dinamika sosial.
Kohati, menurutnya, terus mendorong empat isu utama-keislaman, keindonesiaan, keintelektualan, dan keperempuanan-sebagai fondasi gerakan.
Lebih jauh, Siti menyoroti pentingnya keberlanjutan pasca-kaderisasi.
Ia menyebut tantangan terbesar bukan pada pelaksanaan kegiatan, melainkan pada sejauh mana kader mampu menerjemahkan hasil forum ke dalam gerakan konkret di tengah masyarakat.
“Kami ingin melahirkan Kartini-Kartini muda yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berani secara moral dan memiliki kesadaran sosial. Kartini hari ini harus menjadi subjek yang mampu mengintervensi dan mentransformasi struktur sosial yang timpang dan patriarkis,” ujarnya.
Dalam kerangka intelektual HMI, orientasi tersebut berpijak pada konsep Insan Cita-yakni manusia akademis, pencipta, dan pengabdi yang bernafaskan Islam serta bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur. Kohati, lanjut Siti, memiliki posisi strategis untuk memastikan perempuan tampil sebagai aktor utama dalam mewujudkan cita tersebut.
Sejalan dengan tema Training Raya Nasional, “Trajectory Ecocracy: Intervensi HMI Menuju Masyarakat Cita”, Kohati juga mengusung semangat “Eco-Gender Leadership: Reposisi Kohati dalam Dinamika Kebangsaan Menuju Masyarakat Cita”.
Kohati Cabang Ternate menegaskan komitmennya untuk mengawal visi tersebut hingga ke ruang-ruang strategis, termasuk dalam proses legislasi.
Langkah ini dipandang sebagai upaya mendorong ecocracy – sebuah paradigma politik yang menyeimbangkan demokrasi dengan keberlanjutan ekologis, sekaligus menempatkan perspektif gender sebagai variabel penting dalam kebijakan publik.
“Ini baru langkah awal. Kami ingin memastikan ecocracy tidak berhenti sebagai gagasan, tetapi menjadi arah gerakan nyata,” tandasnya.







Tinggalkan Balasan