Jelang Piala Dunia 2026, Fans Klub di Saria Sepakati Tradisi Batobo, Tim Kalah Siap Dicebur ke Laut
HALBAR – Euforia menyambut Piala Dunia 2026 mulai terasa di Desa Saria, Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat. Para pendukung sejumlah tim nasional yang tergabung dalam berbagai fans club sepak bola setempat menggelar rapat bersama dan menyepakati tradisi unik bertajuk “Batobo”, yakni menceburkan pendukung tim yang kalah ke laut sebagai bentuk hukuman simbolis sekaligus hiburan.
Pertemuan yang berlangsung di Kantor Desa Saria, Sabtu (13/6/2026), dihadiri perwakilan Fans Portugal, Brasil, Uruguay, Belanda, Spanyol, dan Argentina. Agenda utama rapat tersebut adalah menyusun aturan bersama guna menjaga kemeriahan sekaligus sportivitas selama perhelatan Piala Dunia berlangsung.
Kepala Desa Saria, Atman Hasan, yang didaulat sebagai Koordinator Batobo, mengatakan tradisi tersebut telah menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat setiap kali berlangsung turnamen sepak bola internasional.
”Rapat ini bertujuan menyatukan komitmen seluruh fans club agar euforia Piala Dunia berlangsung meriah, tetapi tetap aman dan penuh persaudaraan,” kata Atman.
Dalam rapat tersebut, seluruh peserta menyepakati sejumlah aturan. Salah satunya, apabila tim yang didukung tersingkir atau kalah dalam pertandingan, maka para pendukungnya wajib menjalani hukuman simbolis berupa menceburkan diri ke laut atau batobo.
Kesepakatan lainnya menyebutkan, apabila dua tim yang didukung fans di Desa Saria bertemu pada fase gugur dan salah satunya kalah, maka pendukung tim yang kalah harus menerima sanksi batobo sesuai kesepakatan bersama.
Selain itu, bagi tim yang gagal melaju ke fase berikutnya, para pendukung diperbolehkan bergabung atau berkoalisi dengan fans tim lain untuk menambah kemeriahan dan menjaga semangat kompetisi selama turnamen berlangsung.
Salah satu perwakilan Fans Portugal, Prop, menegaskan bahwa tradisi batobo bukan bentuk permusuhan antarpendukung, melainkan sarana mempererat kebersamaan masyarakat melalui olahraga.
“Ini hanya untuk meramaikan suasana dan bentuk komitmen bersama. Siapa pun yang timnya kalah harus siap menjalani sanksi batobo yang sudah disepakati,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi tersebut bukan hanya dilakukan saat Piala Dunia, tetapi juga pada ajang Euro maupun Copa America. Kegiatan itu bahkan telah menjadi agenda rutin warga setiap kali berlangsung turnamen besar sepak bola.
“Euro, Copa America sampai Piala Dunia selalu ada batobo. Ini sudah menjadi tradisi masyarakat untuk meramaikan turnamen dan mempererat silaturahmi antarpendukung,” katanya.
Meski demikian, seluruh fans club yang hadir menegaskan bahwa euforia sepak bola tidak boleh berujung pada konflik. Mereka sepakat menjunjung tinggi sportivitas, tidak melakukan kontak fisik, serta menghindari tindakan yang dapat memicu perselisihan.
”Kami mengajak seluruh pendukung untuk tetap menjaga persaudaraan. Boleh merayakan kemenangan, boleh bersedih karena kekalahan, tetapi tidak boleh emosi berlebihan dan tidak boleh ada kontak fisik. Batobo hanya hiburan untuk meramaikan Piala Dunia,” pungkasnya.
Dengan kesepakatan tersebut, Desa Saria kembali menunjukkan cara unik dan kreatif dalam menyambut pesta sepak bola terbesar di dunia, menjadikan Piala Dunia bukan hanya ajang dukung-mendukung tim favorit, tetapi juga momentum memperkuat kebersamaan masyarakat.















Tinggalkan Balasan