Diduga Cacat Prosedur, Mahasiswa Tolak Penetapan DEMA IAIN Ternate

Kierahapost.com Riski Samsudin
Dok istimewa

TERNATE – Gelombang penolakan terhadap penetapan Ketua dan Wakil Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Institut IAIN Ternate terus menguat.

Sejumlah Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS), Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (DEMA-F), dan Senat Mahasiswa Fakultas (SEMA-F) menilai proses penetapan berlangsung tanpa transparansi dan diduga melanggar mekanisme persidangan.

‎Informasi yang dihimpun kierahapost.com ini, Minggu (2/8/2026), menyebutkan bahwa rapat pleno I dan II sempat diskors oleh pimpinan sidang tanpa kejelasan waktu pelaksanaan kembali. Namun, beberapa jam setelah forum dibubarkan, beredar ucapan selamat kepada pasangan Ketua dan Wakil Ketua DEMA IAIN Ternate di media sosial.

Kondisi tersebut memicu tanda tanya besar dari para peserta pleno. Mereka mengaku tidak pernah menerima informasi mengenai kelanjutan sidang maupun proses penetapan yang kemudian diumumkan.

‎”Kalau berbicara demokrasi, seharusnya semua pemegang hak suara hadir, terutama ketua-ketua HMPS, DEMA Fakultas, dan SEMA Fakultas. Kami semua punya hak memilih dan menyampaikan pendapat,” ujar salah seorang mahasiswa yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Mahasiswa lainnya menilai proses tersebut tidak mencerminkan prinsip demokrasi yang selama ini dijunjung dalam organisasi kemahasiswaan.

‎”Tiba-tiba langsung ada penetapan. Ini aneh. Bagi kami, ini bukan demokrasi, tetapi diduga bentuk manipulasi demi kepentingan sekelompok mahasiswa dan organisasi tertentu,” tegas sejumlah Ketua HMPS.

Mereka mengklaim sekitar 90 persen unsur HMPS, DEMA Fakultas, dan SEMA Fakultas menolak hasil penetapan tersebut. Menurut mereka, proses yang dilakukan telah keluar dari koridor persidangan dan tidak memenuhi prinsip keterbukaan.

Bahkan, mereka menyebut salah seorang anggota Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) juga mengaku tidak mengetahui adanya kelanjutan pleno yang berujung pada penetapan Ketua dan Wakil Ketua DEMA IAIN Ternate.

“Kalau hari ini demokrasi dikesampingkan, maka ke depan akan terus terjadi hal yang sama. Ini menjadi preseden buruk bagi kehidupan organisasi kemahasiswaan di kampus,” kata salah satu perwakilan mahasiswa.

Sementara itu, Ketua KPUM IAIN Ternate, Muhammad Khairil Khibran Amir, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp belum memberikan penjelasan rinci terkait tudingan tersebut.

“Saya masih di luar, sampai kos baru saya chat,” singkatnya.

Saat dimintai tanggapan mengenai penolakan terhadap penetapan Ketua dan Wakil Ketua DEMA IAIN Ternate, Khairil meminta agar pertemuan dilakukan pada hari berikutnya bersama seluruh panitia.

“Besok bisa, biar sekalian kita bicara langsung. Nanti saya kumpulkan teman-teman panitia,” pungkasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak KPUM belum memberikan klarifikasi resmi terkait mekanisme pleno yang dipersoalkan maupun dasar penetapan Ketua dan Wakil Ketua DEMA IAIN Ternate. Media ini juga masih membuka ruang hak jawab bagi seluruh pihak yang berkepentingan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini