Pelatihan Regulasi Emosi bagi Anak Binaan LPKA Kelas II Ternate
TERNATE – Sebanyak 36 anak binaan Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Ternate mengikuti kegiatan “Pelatihan Regulasi Emosi Anak Binaan LPKA Kelas II Ternate bertempat di Aula LPKA Kelas II Ternate. Senin (20/7/2026).
Kegiatan tersebut merupakan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang digagas oleh tujuh mahasiswa KKN Tematik dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Khairun, terdiri dari empat mahasiswa Program Studi Psikologi dan tiga mahasiswa Program Studi Kedokteran.
Kepala Pembinaan dan pendidikan (KA PPD) LPKA Kelas II Ternate, Muhlis Marsaoly dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sangat berguna bagi anak binaan agar mereka dapat mengenali emosi dan mampu mengontrol emosinya, baik selama berada di dalam LPKA Kelas II Ternate maupun nantinya saat kembali ke tengah masyarakat.
”Rangkaian pembukaan ditutup dengan sesi foto bersama dan pembacaan doa yang dipimpin oleh Amel,” katanya.
Kordinator lapangan (Korlap)
Estherlista Bowombengo mengatakan, bahwa dalam kegiatan yang berlangsung, Najwa Nabilah sebagai moderator memperkenalkan kedua narasumber yang merupakan dosen Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Khairun.
Ia menjelaskan, bahwa materi yang akan disampaikan tentang Regulasi Emosi disampaikan oleh narasumber Happy Cahyani Sunusi, S.Kep., M.Si. Sebelum memulai materi, narasumber kembali mengulang permainan Tepuk Konsentrasi untuk menguji fokus peserta. Enam anak binaan yang salah dalam permainan tersebut mendapat “hukuman” ringan berupa menyanyikan lagu “Kepala Pundak Lutut Kaki” sebagai bentuk permainan yang menghibur.
”Sesi dilanjutkan dengan permainan tisu, di mana setiap anak binaan diminta mengambil lembaran tisu gulung sesuka hati tanpa mengetahui maksudnya terlebih dahulu,” ujarnya.
Estherlista menambahkan , bahwa terdapat delapan anak binaan kemudian diminta maju ke depan dan menyebutkan fakta tentang diri mereka masing-masing sejumlah lembar tisu yang telah mereka ambil, sebagai cara untuk mendorong keterbukaan dan pengenalan diri sebelum masuk ke materi inti.
”Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa emosi adalah perasaan yang muncul dalam diri sebagai respons terhadap sesuatu yang terjadi, baik dari dalam diri maupun dari situasi di luar,” katanya.
Ia menyebutkan, bahwa emosi dibedakan menjadi emosi positif, yaitu perasaan yang muncul saat keadaan baik-baik saja, dan emosi negatif, yaitu perasaan yang muncul saat keadaan tidak baik-baik saja, dengan enam emosi dasar manusia meliputi bahagia, sedih, marah, takut, terkejut, dan jijik.
Menurut dia, regulasi emosi adalah kemampuan seseorang untuk mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosinya secara tepat sesuai situasi yang dihadapi.
“Proses ini diawali dengan menyadari bahwa setiap emosi, baik positif maupun negatif, adalah hal yang wajar dan valid untuk dirasakan,” ujarnya
Agar emosi tidak menguasai diri, Estherlista mengatakan, regulasi emosi dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu memilih atau mengubah situasi, mengalihkan perhatian dari pemicu emosi, mengubah cara berpikir menjadi lebih positif, serta mengendalikan respons yang diberikan.
“Dengan kemampuan regulasi emosi yang baik, seseorang diharapkan mampu mengambil keputusan secara lebih bijaksana, menjaga hubungan dengan orang lain, dan menghadapi tantangan hidup dengan cara yang lebih sehat,” akunya.
Ia menuturkan, bahwa Materi selanjutnya (kedua) tentang Psikodrama Galeri Seni Regulasi Emosi dibawakan oleh narasumber Teraika Sri Sulastri, M.Psi., Psikolog.
Ia menjelaskan, Dalam sesi ini, anak binaan dibagi menjadi dua peran, yaitu “patung” dan “penggerak” yang bertugas membentuk pose sang patung sesuai instruksi emosi yang diberikan.
”Sebagai contoh, narasumber memberikan skenario situasi yang melibatkan orang tersayang, dapat berupa orang tua, saudara, maupun pasangan, dan anak binaan yang berperan sebagai penggerak diminta membentuk pose patungnya untuk mengekspresikan emosi bahagia,” tukasnya.
Melalui pendekatan psikodrama ini, peserta diajak memahami dan mengekspresikan keenam emosi dasar secara lebih nyata dan reflektif.
Dikatakannya, kegiatan dilanjutkan dengan sesi ice breaking bertajuk “Gerak dan Kelompok” yang dipandu oleh Hastina Aulia Sari.
”Dalam permainan ini, pemandu menyampaikan sebuah cerita yang di dalamnya berisi kata kunci berupa nama kendaraan, dan peserta harus dengan cepat membentuk kelompok sesuai jumlah dan peran yang ditentukan oleh kata kunci tersebut,” katanya.
Kata Estherlista, Apabila pemandu menyebut kata “motor”, peserta harus membentuk kelompok berisi dua orang, satu sebagai pengendara dan satu sebagai penumpang boncengan.
“Apabila kata “pesawat” disebut, peserta harus membentuk kelompok berisi tiga orang, yaitu satu pilot dan dua orang berperan sebagai sayap kiri dan kanan. Apabila kata “mobil” disebut, peserta harus membentuk kelompok berisi empat orang, yaitu satu supir, satu orang duduk di samping supir, dan dua orang duduk di kursi belakang.
Sementara jika kata “bis” disebut, peserta harus membentuk kelompok berisi lima orang, yaitu satu supir, satu kenek, dan tiga penumpang. Permainan ini melatih kekompakan, kecepatan berpikir, serta kerja sama antar-anak binaan dalam suasana yang menyenangkan.
Melalui rangkaian kegiatan yang memadukan edukasi, permainan interaktif, dan psikodrama ini, panitia berharap anak binaan LPKA Kelas II Ternate dapat lebih mengenali dan mengelola emosi mereka secara sehat, sehingga mampu menghadapi berbagai situasi kehidupan dengan lebih bijaksana serta mendukung proses pembinaan dan reintegrasi sosial mereka ke depannya.





Tinggalkan Balasan