Hasil Ikan Ngafi Anjlok, Nelayan Bobaneigo Menjerit

Kierahapost.com Riski Samsudin
Ikan Ngafi Anjlok di Halbar (Dok/istimewa)

HALBAR – Hasil tangkapan ikan ngafi (teri) nelayan bagang di Desa Bobaneigo Madihutu, Kecamatan Jailolo Selatan, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, anjlok drastis. Dari sebelumnya mampu mencapai 1–2 ton per bulan, kini nelayan hanya memperoleh sekitar 200 kilogram.

Kondisi ini membuat penghasilan nelayan menurun tajam. Padahal, ikan ngafi menjadi salah satu sumber mata pencaharian utama masyarakat pesisir di desa tersebut.

Pemilik bagang Nilam 01, Kamarudin Habibu, mengungkapkan bahwa hasil tangkapan saat ini jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ketidakpastian jumlah ikan yang diperoleh setiap kali melaut semakin membebani nelayan.

“Penghasilan ikan ngafi per bulan tidak sebanding dengan tahun sebelumnya. Dulu nelayan bisa menghasilkan 1 sampai 2 ton per bulan, tetapi sekarang tidak lagi menjanjikan,” ungkap Kamarudin kepada media, Senin (12/10/2026).

Ia mengatakan, saat ini hasil tangkapan hanya berkisar 200 kilogram per bulan dengan harga tertentu sesuai jenis dan ukuran ikan. Bahkan, dalam kondisi tertentu, hasil tangkapan paling banyak hanya mencapai 500 kilogram per musim.

“Biasanya paling banyak 500 kilogram per musim, tetapi sekarang tidak menentu berapa banyak ikan yang didapat setiap kali melaut,” ujarnya.

Menurut Kamarudin, para nelayan hingga kini belum mengetahui secara pasti penyebab penurunan hasil tangkapan ikan ngafi tersebut. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena usaha bagang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat setempat.

Di Desa Bobaneigo, terdapat sekitar 120 bagang yang menggantungkan penghasilan dari hasil tangkapan ikan. Hasil tersebut umumnya dibeli langsung oleh pedagang pengumpul atau dibo-dibo, kemudian dipasarkan ke Ternate.

Harga ikan ngafi bervariasi, mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 120.000 per kilogram, bergantung pada jenis dan ukurannya. Ikan ngafi super dijual sekitar Rp 120.000 per kilogram, jenis tengah atau halus Rp 100.000 per kilogram, ukuran sedang Rp 80.000 per kilogram, sedangkan jenis goris sekitar Rp 50.000 per kilogram.

Di tengah penurunan hasil tangkapan, nelayan berharap pemerintah daerah tidak menutup mata terhadap kondisi yang mereka hadapi. Mereka meminta perhatian serius, terutama dalam penyediaan fasilitas penangkapan ikan yang dinilai masih kurang memadai.

“Kami berharap pemerintah dapat meningkatkan fasilitas tangkap yang kurang memadai, agar nelayan bisa lebih terbantu dalam menjalankan usaha ini,” tutup Kamarudin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini