Bom Ikan Berulang Kali Terjadi, Camat Jalsel Desak Polairud Bangun Pos
HALBAR – Aktivitas dugaan pengeboman ikan yang berulang kali terjadi di perairan Kecamatan Jailolo Selatan (Jalsel), Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, kian meresahkan masyarakat nelayan.
Pemerintah kecamatan pun mendesak Satuan Polisi Perairan dan Udara (Polairud) membangun pos pengamanan di wilayah tersebut guna mempersempit ruang gerak para pelaku.
Camat Jailolo Selatan, Abdul Haris Haurissa, menegaskan bahwa praktik penangkapan ikan menggunakan bom bukan persoalan baru. Aktivitas yang diduga merusak ekosistem laut itu disebut telah berlangsung sejak lama dan tidak hanya terjadi di perairan Desa Tataleka.
Abdul mengungkapkan, berdasarkan informasi dan pantauannya, aktivitas tersebut juga terindikasi terjadi di perairan Desa Tuguraci dan Desa Biamaahi.
“Terindikasi mereka biasanya melakukan aktivitas pengeboman ikan di Desa Tuguraci, Desa Biamaahi, dan itu lokasi mereka yang melakukan aktivitas tersebut,” ungkap Abdul saat di konfirmasi Kierahapost.com,Sabtu (17/10/2026).
Ia menjelaskan, pihak Polairud sebelumnya telah turun ke Desa Tataleka untuk menindaklanjuti dugaan aktivitas tersebut. Namun, upaya itu belum membuahkan hasil karena petugas tidak menemukan para terduga pelaku di lokasi.
Abdul menilai, salah satu kendala utama dalam menangani aktivitas bom ikan adalah keterbatasan armada yang dimiliki nelayan setempat. Para terduga pelaku disebut menggunakan mesin berkapasitas hingga 40 PK, sedangkan sebagian besar nelayan lokal hanya mengandalkan mesin 25 PK, bahkan perahu katinting.
Kondisi tersebut membuat nelayan kesulitan melakukan pengejaran ketika menemukan aktivitas yang diduga sebagai pengeboman ikan.
“Menurut kami selaku pemerintah kecamatan, meminta agar pihak Polairud menaruh satu unit pos di Jailolo Selatan. Karena kejadian atau aktivitas bom ikan bukan hal yang baru, melainkan kegiatan ini sudah sangat lama,” tegasnya.
Menurut Abdul, keberadaan pos Polairud di Jailolo Selatan menjadi kebutuhan mendesak agar pengawasan dan penindakan dapat dilakukan lebih cepat. Selama ini, apabila petugas harus bergerak dari pos yang berada di wilayah Jailolo, jangkauan menuju lokasi kejadian dinilai terlalu jauh.
“Kalau pos Polairud di Jailolo saja, akan sulit untuk menangkap pelaku karena jangkauannya terlalu jauh,” ujarnya.
Abdul mengaku pemerintah kecamatan telah membangun koordinasi lintas sektor, termasuk dengan pihak Polsek. Bahkan, Kapolsek bersama anggota disebut telah turun ke lapangan untuk menindaklanjuti persoalan tersebut. Namun, upaya itu belum berhasil mengungkap atau mengamankan para terduga pelaku.
Ia menilai keterbatasan armada dan luasnya wilayah perairan menjadi tantangan serius dalam pengawasan laut di kawasan Jailolo Selatan.
Sebagai langkah lanjutan, pihaknya berencana berkoordinasi dengan Pemerintah Kecamatan Jailolo, terutama apabila aktivitas tersebut diduga melibatkan warga dari wilayah kecamatan tersebut.
“Kalaupun ada masyarakat yang berada di wilayah Jailolo yang melakukan itu, berarti kewenangannya ada di Camat Jailolo dan seharusnya Camat Jailolo yang mengambil tindakan,” katanya.
Abdul berharap koordinasi antarkecamatan dapat menghasilkan langkah konkret, bukan sekadar komunikasi tanpa tindak lanjut. Jika tidak ada tindakan nyata, ia menyatakan akan membawa persoalan tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat melalui instansi terkait.
Abdul menegaskan, praktik pengeboman ikan harus dihentikan karena berpotensi merusak ekosistem laut dan merugikan nelayan yang menggantungkan hidup dari hasil tangkapan.
Menurutnya, tanpa pengawasan yang memadai dan dukungan armada yang cukup, nelayan kecil akan terus kesulitan menghadapi dugaan aktivitas ilegal di wilayah perairan mereka.
Karena itu, ia meminta Polairud dan pemerintah daerah memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut, termasuk mempertimbangkan pembangunan pos Polairud di Jailolo Selatan.
“Harapan saya, kiranya aktivitas bom ikan ini harus dihentikan karena sangat merugikan, khususnya masyarakat nelayan di pesisir Jailolo Selatan. Kemudian, Polairud bisa membangun pos di Jailolo Selatan untuk memperpendek rentang kendali,” tutupnya.







Tinggalkan Balasan