Nelayan Saria Menjerit, Ombak Ganas Lumpuhkan Aktivitas Melaut
HALBAR – Nelayan di Desa Saria, Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, terpaksa menghentikan aktivitas melaut akibat cuaca ekstrem yang disertai angin kencang dan gelombang tinggi.
Kondisi tersebut telah berlangsung hampir satu bulan dan berdampak langsung terhadap mata pencaharian masyarakat pesisir.
Pantauan kierahapost.com di lapangan sejak 3 hingga 5 Agustus 2026 menunjukkan sebagian besar nelayan memilih memperbaiki jaring, mengecat kapal pajeko, serta melakukan perawatan perahu sambil menunggu cuaca kembali normal.
‎Desa Saria dikenal sebagai salah satu sentra nelayan pajeko di Halmahera Barat. Terdapat sekitar 16 hingga 18 unit kapal pajeko yang masing-masing diawaki 10 hingga 20 orang. Seluruh armada tersebut merupakan hasil swadaya masyarakat, bukan bantuan pemerintah.
Salah seorang ABK Pajeko Sinar Mado, Boel, mengatakan kondisi laut saat ini sangat berbahaya sehingga nelayan memilih tidak mengambil risiko.
“Bukan hanya pajeko, perahu tuna juga tidak melaut karena cuaca sangat tidak mendukung. Kami menunggu sampai kondisi laut kembali stabil,” ujarnya.
Menurut Boel, sebagian nelayan yang memiliki kebun sementara beralih bertani, sedangkan lainnya memanfaatkan waktu untuk memperbaiki alat tangkap dan kapal.
Namun, persoalan yang paling dikhawatirkan adalah keselamatan kapal-kapal nelayan yang bersandar di pelabuhan. Gelombang tinggi dan tidak adanya talud atau pemecah ombak membuat kapal-kapal mereka terancam rusak bahkan terbalik.
“Seluruh warga sangat khawatir. Gelombang besar datang langsung ke pelabuhan karena tidak ada penahan ombak. Perahu kami tidak aman,” katanya.
Ia mengungkapkan, para nelayan bahkan harus bergantian menjaga kapal pada malam hari.Beberapa waktu lalu, sejumlah perahu milik warga dilaporkan terbalik akibat dihantam gelombang dan angin kencang. Demi keamanan, sebagian nelayan terpaksa memindahkan kapalnya ke dermaga desa tetangga.
Atas kondisi tersebut, nelayan Desa Saria mendesak Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat, Pemerintah Provinsi Maluku Utara, hingga Pemerintah Pusat segera membangun talud atau pemecah ombak guna melindungi pelabuhan nelayan.
Mereka menilai keberadaan talud menjadi kebutuhan mendesak agar kapal-kapal nelayan tidak terus menjadi korban setiap kali musim angin dan gelombang tinggi melanda wilayah pesisir Desa Saria.















Tinggalkan Balasan