Tamin: Indonesia Harus Merdeka dari Pemimpin Arogan

Kierahapost.com Riski Samsudin
Foto Tamin Ilan Abanon (Dok/istimewa)

HALBAR – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, mantan Anggota DPRD Halmahera Barat, Tamin Ilan Abanon, melontarkan kritik tajam terhadap praktik kepemimpinan yang dinilainya arogan dan mengabaikan hak-hak rakyat.

Melalui tulisan opininya berjudul “HUT RI Ke-81: Merdeka dari Pemimpin Arogan Menuju Kepemimpinan Asketis”, Tamin mengajak masyarakat memaknai kemerdekaan sebagai upaya membebaskan diri dari kepemimpinan yang tidak berpihak kepada rakyat.

Menurut Tamin, makna kemerdekaan tidak hanya sebatas terbebas dari penjajahan bangsa asing, tetapi juga harus dimaknai sebagai kebebasan dari kepemimpinan yang sewenang-wenang, anti kritik, serta mengabaikan hak-hak masyarakat maupun aparatur negara.

‎Ia menyoroti masih adanya hak-hak aparatur sipil negara (ASN) yang belum dipenuhi, seperti pembayaran Gaji ke-13 dan sejumlah hak lainnya. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi gambaran kepemimpinan yang tidak memiliki empati terhadap rakyat maupun bawahannya.

“Pemimpin yang arogan lebih mementingkan kepentingan kelompok dan pencitraan dibanding menyelesaikan persoalan masyarakat. Kekuasaan dipandang sebagai alat untuk memuaskan diri, bukan sebagai amanah,” tulis Tamin dalam opininya.

‎Ia menilai pemimpin yang arogan umumnya merasa paling benar, menutup ruang kritik, serta kerap mengambil keputusan sepihak tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat. Jika terus dibiarkan, kata dia, kondisi tersebut dapat merusak kepercayaan publik dan melemahkan demokrasi.

Sebagai solusi, Tamin mendorong lahirnya pemimpin asketis, yakni pemimpin yang rendah hati, terbuka terhadap kritik, memiliki empati, dan menjadikan kekuasaan sebagai sarana melayani rakyat.

Menurutnya, masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk menggunakan hak politik secara cerdas dengan memilih pemimpin yang benar-benar berpihak kepada kepentingan rakyat.

Menutup opininya, Tamin mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum HUT ke-81 RI bukan sekadar perayaan seremonial, tetapi sebagai pengingat untuk memperjuangkan kepemimpinan yang adil, bijaksana, dan bebas dari sikap arogan.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang dipimpin oleh mereka yang mengutamakan kerendahan hati, kebijaksanaan, dan keadilan. Saatnya Indonesia merdeka dari pemimpin arogan menuju kepemimpinan yang melayani rakyat,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini