Barisan Pemuda Adat Nusantara Murka, Tarian Leluhur Dijadikan Konten Murahan
TERNATE – Barisan Pemuda Adat Nusantara mengecam keras beredarnya video sejumlah influencer asal Maluku Utara, menampilkan koreografi menggunakan unsur tarian tradisional daerah dengan gaya yang dinilai tidak menghormati nilai budaya dan adat setempat.
Video yang beredar luas di media sosial tersebut memicu reaksi dari berbagai kalangan, terutama pegiat budaya dan komunitas adat yang menilai konten tersebut telah mengaburkan makna serta nilai filosofis yang diwariskan para leluhur.
Anggota Barisan Pemuda Adat Nusantara sekaligus Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara, Mujais Apling menegaskan, tarian tradisional bukan sekadar hiburan atau alat untuk meraih popularitas di media sosial.
“Budaya daerah bukanlah bahan hiburan semata, apalagi hanya untuk mengejar popularitas. Tarian tradisional memiliki sejarah, filosofi, dan nilai perjuangan yang diwariskan oleh leluhur.Ketika ditampilkan tanpa memahami konteks dan maknanya, itu sama saja dengan merendahkan kehormatan budaya serta melukai perasaan masyarakat adat,” tegas Mujais, Selasa (23/6/2026).
Menurutnya, setiap gerakan dalam tarian tradisional mengandung pesan, identitas, dan nilai sejarah yang tidak boleh diperlakukan sembarangan demi kepentingan konten digital.
Barisan Pemuda Adat Nusantara menilai fenomena tersebut menjadi peringatan penting bagi para kreator konten dan figur publik agar lebih bijak dalam mengangkat unsur budaya ke ruang digital.Kebebasan berekspresi, kata mereka, tidak boleh mengabaikan etika serta penghormatan terhadap warisan budaya yang menjadi identitas masyarakat.
“Kami menghormati kreativitas, tetapi jangan sampai alasan mengikuti tren justru mengorbankan kehormatan budaya. Setiap simbol budaya yang dibawa ke ruang publik adalah amanat leluhur yang harus dijaga dan dihormati,” ujar Mujais.
Ia juga mengajak seluruh masyarakat Maluku Utara, khususnya para influencer dan pengguna media sosial, untuk menjadikan platform digital sebagai sarana edukasi dan pelestarian budaya, bukan sebaliknya.
“Jangan tukarkan nilai budaya dengan popularitas sesaat. Budaya adalah identitas masyarakat. Ketika budaya direndahkan, yang terluka bukan hanya seni, tetapi juga jati diri, martabat, dan sejarah suatu daerah,” tandasnya.
Barisan Pemuda Adat Nusantara berharap peristiwa tersebut menjadi pelajaran bersama agar setiap konten yang mengangkat budaya lokal dilakukan dengan pemahaman yang utuh, penghormatan yang tinggi, serta tanggung jawab moral terhadap warisan leluhur.










Tinggalkan Balasan