Nelayan Saria Terhenti, Ekonomi Ikut Melambat

Kierahapost.com Riski Samsudin
Foto Nelayan Desa Saria (Dok: Diaz/Kierahapost)

HALBAR – Aktivitas nelayan di Desa Saria, Kecamatan Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, turut menjadi penggerak ekonomi masyarakat pesisir.

Ketika kondisi laut memungkinkan, aktivitas melaut tidak hanya menghasilkan ikan, tetapi juga menggerakkan transaksi dan pendapatan masyarakat di sepanjang rantai ekonomi perikanan.

Namun, kondisi berbeda terjadi ketika cuaca buruk melanda. Nelayan terpaksa menambatkan perahu demi keselamatan, sementara aktivitas produksi dan perdagangan ikan ikut mengalami perlambatan.

Sebagai mahasiswa Ekonomi Pembangunan, persoalan tersebut tidak semata-mata dapat dilihat sebagai persoalan cuaca. Berhentinya aktivitas melaut berkaitan langsung dengan pendapatan rumah tangga nelayan, produksi perikanan, pasokan ikan hingga perputaran ekonomi masyarakat pesisir.

Penelitian mengenai masyarakat pesisir Desa Saria pada 2026 mencatat sekitar 117 penduduk usia produktif berprofesi sebagai nelayan. Sementara pemberitaan mengenai aktivitas perikanan di Desa Saria menyebut produksi tangkapan berada pada kisaran 20–25 ton per bulan.

Angka tersebut merupakan basis estimasi dan bukan statistik resmi produksi perikanan Desa Saria.

Sebagai pembanding, produksi perikanan tangkap Kabupaten Halmahera Barat pada 2024 disebut mencapai sekitar 28,31 juta kilogram dengan nilai produksi sekitar Rp594,07 miliar.

Jika nilai produksi tersebut dibagi berdasarkan volume, diperoleh nilai rata-rata sekitar Rp 20.982 per kilogram.

Dengan menggunakan angka tersebut sebagai pendekatan, produksi 20 ton ikan per bulan di Desa Saria memiliki estimasi nilai sekitar Rp 419,6 juta. Sementara produksi 25 ton diperkirakan mencapai Rp 524,5 juta per bulan.

Jika dihitung secara tahunan, nilai produksi tersebut berada pada kisaran Rp 5,04 miliar hingga Rp 6,29 miliar.

Angka itu bukan pendapatan bersih nelayan, bukan PAD dan bukan pula kontribusi resmi Desa Saria terhadap PDRB. Angka tersebut hanya merupakan estimasi nilai produksi bruto berdasarkan asumsi harga rata-rata tingkat kabupaten.

Meski demikian, estimasi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas nelayan Saria memiliki nilai ekonomi yang cukup besar dan berkaitan dengan kehidupan masyarakat lainnya.

Ketika nelayan melaut, perputaran ekonomi tidak berhenti pada hasil tangkapan. Ikan berpindah dari nelayan ke pengepul, pedagang dan konsumen. Di sisi lain, aktivitas tersebut juga menciptakan kebutuhan terhadap es, BBM, transportasi, tenaga kerja hingga jasa lainnya.

Karena itu, ketika nelayan berhenti melaut, rantai ekonomi tersebut berpotensi ikut melambat.

Jika nilai produksi bulanan dibagi secara sederhana selama 30 hari, maka potensi nilai produksi yang tertahan berada pada kisaran Rp 14 juta hingga Rp 17,5 juta per hari.

Dalam ilustrasi tersebut, tujuh hari berhentinya aktivitas melaut dapat berkaitan dengan potensi nilai ekonomi yang tertunda sekitar Rp 97,9 juta hingga Rp 122,4 juta.

Namun, angka tersebut tidak dapat langsung disebut sebagai kerugian aktual. Produksi nelayan tidak merata setiap hari dan sangat dipengaruhi musim, kondisi gelombang, jumlah perahu yang beroperasi, jenis ikan, lokasi penangkapan, biaya operasional serta harga ikan saat transaksi.

Istilah yang lebih tepat adalah potensi nilai ekonomi yang tertahan, bukan kerugian aktual.

Kondisi ini menunjukkan pentingnya pemerintah memiliki data yang lebih rinci mengenai aktivitas perikanan di Desa Saria. Data tersebut antara lain jumlah nelayan, jumlah perahu, volume tangkapan, jenis komoditas, harga ikan, pendapatan rata-rata nelayan serta jumlah hari nelayan tidak dapat melaut akibat cuaca.

Data tersebut penting agar kebijakan pembangunan ekonomi masyarakat pesisir tidak hanya didasarkan pada kondisi normal, tetapi juga memperhitungkan risiko ketika terjadi guncangan seperti cuaca buruk.

Bagi rumah tangga yang sepenuhnya bergantung pada hasil laut, cuaca buruk dapat menjadi guncangan ekonomi. Ketika nelayan tidak melaut, produksi menurun, pendapatan rumah tangga berkurang dan pasokan ikan ke pasar berpotensi ikut menurun.

Karena itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat pesisir melalui berbagai kebijakan, mulai dari akses informasi cuaca, fasilitas penyimpanan ikan, pengolahan hasil perikanan, akses pembiayaan, perlindungan sosial hingga diversifikasi sumber pendapatan.

Pembangunan ekonomi masyarakat pesisir tidak cukup hanya menghitung berapa banyak ikan yang berhasil ditangkap. Pemerintah juga perlu melihat bagaimana nelayan bertahan ketika mereka tidak dapat melaut.

Desa Saria membutuhkan data yang lebih presisi mengenai posisi sektor perikanan dalam perekonomian daerah. Dari data tersebut, pemerintah dapat mengetahui nilai ekonomi perikanan, pendapatan nelayan, dampak cuaca terhadap produksi serta sejauh mana aktivitas tersebut menggerakkan ekonomi masyarakat setempat.

Laut boleh tidak bersahabat dan perahu nelayan harus ditambatkan demi keselamatan. Namun, kondisi tersebut tidak seharusnya membuat perhatian terhadap ketahanan ekonomi masyarakat pesisir ikut berhenti.

Ketika nelayan berhenti melaut sementara waktu, ekonomi masyarakat tetap membutuhkan perlindungan dan kebijakan agar tidak ikut tenggelam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini